Jumat, 09 Mei 2014

Konseling Individual


Ø   Pengertian konseling individual

Konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi individu untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Dalam hal ini harus selalu diingat agar individu pada akhirnya dapat memecahkan setiap masalah yang mungkin akan dihadapi dalam kehidupannya.

Konseling individual merupakan pelayanan bantuan secara profesional melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang untuk mengentaskan masalah yang dihadapi individu dalam kehidupannya. Konseli mengalami kesukaran pribadi yang tidak dapat ia pecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan konselor sebagai petugas yang profesional dalam jabatannya dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.

Dalam layanan konseling individual, konselor memberikan ruang dan suasana yang memungkinkan konseli membuka diri setransparan mungkin. Dalam konseling diharapkan konseli dapat mengubah sikap, keputusan diri sendiri sehingga ia dapat lebih baik menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memberikan kesejahteraan pada diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Pemilihan dan penyesuaian yang tepat dapat memberikan perkembangan ini individu dapat lebih baik dalam lingkungannya.

Terkait dengan lengkapnya penerapan pendekatan dan teknik serta asas-asas yang ada dalam konseling individual, maka sering dianggap sebagai ”jantung hatinya” pelayanan konseling yang berarti sebagai berikut:
·         Konseling individual seringkali merupakan layanan esensial dan puncak (paling bermakna) dalam pengentasan masalah konseli.
·         Seorang ahli (konselor) yang mampu dengan baik menerapkan secara sinergis berbagai pendekatan, teknik dan asas-asas konseling dalam layanan Konseling individual, diyakini akan mampu juga menyelenggarakan jenis-jenis layanan lain keseluruhan spektrum pelayanan konseling.

Ø   Tujuan Konseling individual

Konseling bertujuan membantu membantu individu untuk mengadakan interpretasi fakta-fakta, mendalami arti nilai hidup pribadi, kini dan mendatang. Konseling memberikan bantuan kepada individu untuk mengembangkan kesehatan mental, perubahan sikap, dan tingkah laku. Konseling menjadi strategi utama dalam proses bimbingan dan merupakan teknik standar serta merupakan tugas pokok seorang konselor di pusat pendidikan.
Tujuan umum layanan Konseling individual adalah terentaskannya masalah yang dialami konseli. Apabila masalah konseli itu dicirikan antara lain: sesuatu yang tidak disukai adanya, suatu yang ingin dihilangkan, sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan kerugian, maka upaya pengentasan masalah konseli melalui Konseling individual akan mengurani intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang dimaksud. Dengan layanan Konseling individual beban konseli diringankan, kemampuan konseli ditingkatkan, dan potensi konseli dikembangkan.
Ø   Fungsi Konseling individual

Dalam kerangka tujuan umum di atas, maka dalam layanan Konseling individual dapat dirinci dan secara langsung dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling secara menyeluruh diembannya yaitu sebagai berikut:

·         Melalui layanan konseling individual konseli memahami seluk beluk masalah yang dialami secara mendalam dan komprehensif, serta positif dan dinamis (fungsi pemahaman).

·         Pemahaman yang mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi terentaskannya secara spesifik masalah yang dialami konseli tersebut (fungsi pengentasan).

·         Pengembangan dan pemeliharaan potensi konseli dan berbagai unsur positif yang ada pada dirinya merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah konseli dapat dicapai (fungsi pengembangan dan pemeliharaan).

Layanan konseling individual seringkali menjadikan pengembangan/ pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif konseli sebagai fokus dan sasaran layanan, diperkuat oleh terentaskannya masalah, akan merupakan kekuatan bagi tercegah menjalarnya masalah yang sekarang sedang dialami itu, serta diharapkan tercegah pula masalah-masalah baru yang mungkin timbul timbul (fungsi pencegahan). Masalah yang dialami yang dialami konseli menyangkut dilanggarnya hak-hak konseli sehingga konseli teraniaya dalam kadar tertentu, layanan konseling individual dapat menangani sasaran yang bersifat advokasi (fungsi advokasi). Melalui layanan konseling individual konseli memiliki kemampuan untuk membela diri sendiri menghadapi keteraniayaan itu. Kelima sasaran yang merupakan wujud dari keseluruhan fungsi konseling itu, secara langsung mengarah kepada dipenuhinya kualitas untuk kehidupan sehari-hari yang efektif (efektive daily living).

Ø   Asas-asas konseling individual

Kekhasan yang paling mendasar layanan konseling individual adalah hubungan interpersonal yang amat intens antara konseli dan konselor. Asas-asas konseling akan memperlancar proses dan memperkuat bangunan yang ada di dalamnya. Yang mendasar seluruh kegiatan layanan konseling individual adalah asas kerahasiaan, kesukarelaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kegiatan, kenormatifan dan asas keahlian.

·         Asas kerahasiaan
Hubungan interpersonal yang amat intens sanggup membongkar berbagai isi pribadi yang paling dalam sekalipun, terutama pada sisi konseli. Untuk ini asas kerahasiaan menjamin jaminannya. Segenap rahasia pribadi konseli yang terbongkar menjadi tanggung jawab penuh konselor untuk melindunginya. Keyakinan konseli akan adanya perlindungan yang demikian itu menjadi jaminan untuk suksesnya pelayanan.


·         Asas kesukarelaan dan keterbukaan
Kesukarelaan penuh konseli untuk menjalani proses layanan konseling individual bersama konselor menjadi buah dari terjaminnya kerahasiaan pribadi konseli. Dengan demikian kerahasiaan dan kesukarelaan menjadi unsur dwi-tunggal yang mengantarkan konseli ke arena proses layanan konseling individual. Asas kesukarelaan akan menghasilkan keterbukaan konseli.
Konseli pada awalnya dalam kondisi sukarela untuk bertemu dengan konselor. Kesukarelaan awal ini harus dipupuk dan dikuatkan. Apabila penguatan kesukarelaan awal ini gagal dilaksanakan maka keterbukaan tidak akan terjadi dan kelangsungan proses layanan terancam kegagalan. Jadi seberat apapun pengembangan kesukarelaan dan keterbukaan itu harus dilakukan konselor, apabila proses konseling hendak dihidupkan.

·         Asas kekinian dan kegiatan
Asas kekinian diterapkan sejak paling awal konselor bertemu konseli. Dengan nuansa kekinianlah segenap proses layanan dikembangkan dan atas dasar kekinian pulalah kegiatan konseli dalam layanan dijalankan.
Konseli dituntut untuk benar-benar aktif menjalani proses perbantuan melalui layanan konseling individual, dari awal dan selama proses layanan sampai pada periode pasca layanan. Tanpa keseriusan dalam aktifitas yang dimaksudkan itu dikhawatirkan perolehan konseli akan sangat terbatas atau keseluruhan proses layanan itu menjadi sia-sia.

·         Asas kenormatifan dan keahlian
Semua aspek teknis dan isi layanan konseling individual adalah normatif artinya tidak boleh terlepas dari kaidah-kaidah norma yang berlaku baik norma agama, adat, hukum, ilmu, dan kebiasaan. Konseli dan konselor terikat sepenuhnya oleh nilai-nilai dan norma yang berlaku.
Sebagai seorang yang ahli dalam pelayanan konseling, konselor mencurahkan keahlian profesionalnya dalam pengembangan konseling individual untuk kepentingan konseli dengan menerapkan semua asas di atas. Keahlian konselor itu diterapkan dalam suasana normatif terhadap konseli yang sukarela, terbuka, aktif agar konseli mampu mengambil keputusan sendiri. Seluruh kegiatan konseling individual ini bernuansa kekinian dan rahasia pribadi sepenuhnya dirahasiakan.

untuk mengunduh silahkan Klik Disini

Konseling Client Centered


Pengertian Pendekatan Konseling Client Centered
Pendekatan konseling Client Centered sering juga di sebut pendekatan konseling Non-directive. Pendekatan konseling client centered adalah suatu metode perawatan psikis yang di lakukan dengan cara berdialog antar konselor dengan klien, agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri klien yang ideal dengan actual self (diri klien sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya (Willis, 2010).
Hakikat manusia menurut client centered
Hakikat manusia dalam client centered menurut Rogers (dalam Latipun, 2010) adalah sebagai berikut:
·         Manusia cenderung untuk melakukan aktalisasi diri
·         Perilaku manusia pada dasarnya sesuai denga persepsinya tentang medan fenomenal individu itu mereaksi medan itu sebagaimana yang dipersepsi
·         Manusia pada dasarnya bermartabat dan berharga serta memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi sebagai hal yang baik dari dirinya
·         Secara mendasar manusia itu baik dan dapat di percaya, konstruktif tidak merusak dirinya
Tujuan Konseling Client Centered
Tujuan konseling client centered adalah untuk membina kepribadian klien secara integral, berdiri sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri. Kepribadian yang integral adalah struktur kepribadiannya tidak terpecah, artinya sesuai antara gambaran tentang diri yang ideal dengan kenyataan diri sebenarnya. Kepribadian yang berdiri sendiri adalah yang mampu menentukan pilihan sendiri atas dasar tanggung jawab kemampuan
Teknik konseling client centered
Teknik-teknik dalam pendekatan ini antara lain adalah:
(1) acceptance (penerimaan);(2) respect (rasa hormat); (3) understanding (pemahaman); (4) reassurance (menentramkan hati); (5) encouragementlimited questioning(pertanyaan terbatas; dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). (memberi dorongan); (5)
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik, mengambil keputusan yang tepat, mengarahkan diri mewujudkan dirinya.
Berikut adalah contoh konseling client centered :
untuk mengunduh Klik Disini

Konseling Keluarga



A.      Pengertian Konseling Keluarga

Sebelum kepada model-model konseling keluarga maka berikut ini akan dikemukakan defini konseling keluarga. “Family therapy is an interactive proces which seeks to aid the family in regaining a homeostatic balance with which all the members are confortable in pursuing this objective the family therapist operates under certain basic assumptions”. Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam memcapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan. Untuk mencapai hal tersebut ini dikemukakan asumsi-asumsi dasar yang dapat menunjang pencapaian tujuan. Konseling keluarga adalah usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga, dan mengusahakan agar terjadi perubahan prilaku yang positif pada diri individu yang akan memberi dampak positif pula terhadap anggota keluarga lainnya.

B.       Model-Model Konseling Keluarga 

Salah satu model konseling keluarga adalah terapi keluarga atau family therapy.
Terapi ini mulai dikembangkan sejak tahun 1950. Terapi keluarga merupakan suatu metode yang menggunakan pendekatan struktural dalam menanggani masalah keluarga. Titik tolak dari pendekatan ini ialah pendapat bahwa keluarga merupakan suatu sistem sosialterkecil. Jadi, jika salah seorang anggota keluarga mengalami masalah-masalah yang mengganggu keseimbangan dirinya atau penampilan tingkah lakunya maka seluruh keluarga yang lain akan juga mengikuti gangguan atau goncangan itu.

Ø   Diagnosis dan konseling oleh Ackerman (Ackerman’s Family Diagnosis and Counseling).
Nothan W. Ackerman,seorang psikiatri di New York yang secara professional telah mengembangkan dan menyebarluaskan konseling keluarga dengan menekankan interdipendensi antara prosedur diagnosis dan penanganan (treatment). Ia menjelaskan putusan diagnotis menentukan kejelasan penentuan tujuan konseling dan kekhususan tekhnik yang digunakan dalam konseling keluarga serat interview terhadap keluarga menjadi komponen essential dalam sistem diagnosis dalam konseling keluarga.
Untuk mencapai tujuan, seorang konselor keluarga spesifik sebagai berikut:
1.    Membantu keluarga mencapai kejelasan pembatasan konflik.
2.    Mendudukkan konflik pada tempat yang sebenarnya.
3.    Meluruskan prasangka-prasangka rasional yang tercakup dalam konflik dengan cara:
o    Membebaskan beban yang terlalu banyak pada seseorang sebagai anggota dalam satu keluarga.
o    Membebaskan beban kesedihan karena konflik dalam keluarga, di mana seharusnyadapat saling berhubungan dengan efektif.
o    Mengaktifkan masuknya unsur emosi yang baik ke dalam hubungan antar anggota keluarga.

Ø   Konseling keluarga secara bersama-sama oleh Safir (Safir’s Conjoint Family Counseling).

Virgina Safir sebagai seorang ahli terapi, mempunyai ciri seorang yang suka langsung, penuh semangat, otoriter dalam pertemuan-pertemuan dengan anggota keluarga. Selama mengadakan pertemuan dengan keluarga, Safir memmbuat pertanyaan lebih banyak daripada anggota keluarga. Tujuannya adalah untuk mengembangkan interaksi antar anggota keluarga. Dia melakukan semua hal ini dengan komunikasi verbal yang sangat baik dan dengan dirinya sendiri sebagai pusatnya.
Dalam pelaksanaan konseling, Safir menuntut suami dan istri sama-sama hadir dalam wawancara pertama, ia menekankan pentingnya kebutuhan laki-laki dan perempuan dalam rangka memperoleh informasi tentang masalah keluarga. Dalam wawancara pertama, Safir mengajukan pertanyaan untuk mengetahui apa yang diinginkan keluarga tersebut dan apa yang diharapkan dari konseling dan kemudian secara mendalam mengetahui keadaan atau sifat keluarga yang diberikan bantuan. selanjutnyaSafir menjelaskan bahwa tiap keluarga memberikan kontribusi yang tidak sama dengan keluarga lainnya dan terhadap kesulitannya. Hal inilah yang perlu dimengerti oleh konselor sebelum memberikan bantuan. Dalam membantu keluarga agar hubungannya lebih efektif, Safir menempuh dua jalan,anatar membantu orang tua untuk mengerti anaknya dan penerimaan timbal balik antar mereka sendiri.

Ø   Konseling keluarga berdasarkan Triad (Triad’s Based Family Counseling)

Grald H. Zuk seorang ahli psikoterapi dari Philadelphia mengembangkan konseling keluarga berdasarkan hubungan antara tiga atau lebih dalam keluarganya, yang menurut anggapannya lebih baik daripada berdasarkan yang banyak dilakukan oleh ahli psikoanalisis. Zuk menekankan bahwa triad itu dipakai sebagai perbaikan dari model dyad, yaitu terapi keluarga berdasarkan hubungan tiga orang dalam keluarga:
1.      Antara anak – ibu – anak
2.      Antara anak – ayah – anak
3.      Antara ayah – ibu – anak
Karena kesulitan dan permasalahan keluarga tersebuit kemungkinan harus melibatkan dua atau lebih anggota keluarga yang saling bertentangan. Dalam mengatasi pertentangan keluarga, seorang terapis diharapkan mampu berperan sebagai penengah dan pelerai.

Ø   Konseling kelompok keluarga oleh Bell (Bell’s Family Group Counseling)

Jhon Elderkin Bell, seorang ahli psikoterapi dari California. Dalam konselingnya memfungsikan pentingnya hubungan dalam keluarga sebagai cara untuk memperkuat hubungan sebagai suatu kelompok. Menurut Bell tugas yang harus segera dilakukan adalah membantu memperluas dan memperbaiki hubungan antar anggota keluarga. Peningkatan komunikasi keluarga sebagai cara yang paling baik untuk pemecahan masalah keluarga. Bell mengajarkan kepada keluarga untuk:
  1. Sifat yang lebih fleksibel.
  2. Lebih terbuka.
  3. Langsung.
  4. Jelas.
  5. Lebih disiplin dalam memilih dan membentuk hubungan.
  6. Konseling tingkah laku keluarga oleh Liberman (Behavior Counseling)
R. Paul Liberman, seorang ahli psikiater dari California telah menerapkan teori-teori dan prosedur konseling tingkah laku dalam keluarga. Menurutnya tugas terapis adalah:
  1. Menyebutkan secara panjang lebar mengenai tingkah laku penyesuaian yang buruk (maladaptive behavior).
  2. Memilih tujuan-tujuan yang masuk akaldari beberapa alternatif, tingkah laku yang sesuai (adaptive behavior).
  3. Mengarahkan dan membimbing keluarga untuk merubah tingkah laku yang tak sesuai dengan tingkah laku yang sesuai.
Dalam penerapan teori tingkah laku ke dalam konseling keluarga, Liberman menekankan pada empat  hal pokok:
  1. Menciptakan dan memelihara konselingyang positif dengan jalan menggunakan penguatan sosial dan model.
  2. Mendiagnosis problem-problem keluarga ke dalam istilah tingkah laku.
  3. Mengimplementasikan prinsip-prinsip tingkah laku dari penguat dan model (contoh) dalam hubungan interpersonal.
  4. Liberman membedakan beberapa tingkah laku konselor yang cendrung mengecilkan pentingnya hubungan antar konselor dan klien. Bahkan ada beberapa kritik bahwa konseling tingkah laku cendrung menggunakan pendekatan mengajar secara mesin (teaching machine) terhadap perubahan kepribadian.
Dalam membuat penialaian tingkah laku, Liberman menanyakan kepada tiap-tiap anggota keluarga berturut-turut apakah dia senang melihat perubahan-perubahan dari keluarga lain dan apakah dia menyukai dibedakannya dengan dirinya serta perbedaan apa yang dikehendaki di lihat pada keluarga lain. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu digunakan sebagai pedoman, sehingga dia dapat membuat pilihan yang seksama terhadap tujuan tingkah laku yang spesifik. Analisis tingkah laku belum selesai sesudah pertemuan pertama, tetapi harus dilakukan secara rutin sampai problem tingkah laku mereka berubah.
Liberman menggunakan model atau permainan peranan dalam melakukan penyembuhan. Model itu dapat dalam satu dari konselor, atau anggota keluarga. Jika model menujukkan tingkah laku yang diinginkan berarti bantuan yang diterima positif dan mungkin klien akan menirunya. Dalam konseling tingkah laku mengutamakan pula adanya kesepakatan antara pribadi, antara konselor dan anggota keluarga untuk mengubah problem tingkah laku yang lebih sesuai. Liberman mengatakan bahwa pendekatan tingkah laku pada konseling keluarga memerlukan keuletan tenaga dari konselor, berlainan dengan pendekatan psikoanalisis.

Ø   Konseling dampak ganda oleh Gregor (multiple impact counseling)

Robert Ma Gregor seorang ahli psikologi, mengembangkan suatu metode untuk menangani keluarga dengan melihat gangguan dan krisis pada masa remajanya. Metode itu disebut multiple impact counseling yang sering disingkat dengan MIC. MIC melibatkan orang-orang yang ada hubungannya dengan keluarga tersebut, misalnya saudara, tetangga, teman, dan lain-lain. Konselor pun terdiri dari bermacam-macam ahli, yaitu ahli psikologi, psikiater, pekerja sosial, dokter dan lain-lain. MIC mencoba menolong klien dan keluarga melalui proses alamiah menuju keperbaiakan fungsi. Pelaksanaan konseling dengan cara pertemuan (conference) antara konselor, klien dan keluarganya dan orang-orang lain seperti tersebut di atas. Dalam pertemuan terjadi wawancara dan diskusi antara konselor dengan klien dan keluarganya. MIC dilaksanakan selama dua setengah hari dan sering selama dua hari saja MIC telah selesai. Pertemuan, wawancara dan diskusi dilakukan pada pagi dan sore hari secara terus menerus selam dua hari itu.

Ø   Campur tangan jaringan social oleh Speck (social network intervention)

Ross V. Speck seorang psikiater, dengan teman-temanya telah mengembangkan konseling keluarga. Dalam campur tangan jaringan sosial ini Speck dan teman-temanya melibatkan seluruh saudara, teman-teman. Tetangga dari keluarga yang bermasalah yang kelihatannya mempunyai pengaruh yang berarti bagi keluarga itu. Caranya dengan mengadakan pertemuan di rumah keluarga tersebut, dan melibatkan kira-kira 40 orang. Tempat pertemuan dapat juga diadakan di rumah salah satu keluarga. Salah seorang dari mereka dapat juga diadakan dipilih menjadi pimpinan jaringan sosial tersebut. Seorang pimpinan dibutuhkan perasaan peka terhadap waktu, empati, perasaan akan suasana hati kelompok dan mempunyai kharisma. Dia juga harus mempunyai kecakapan untuk memberikan kepercayaan, bertanggung jawab dan memberikan penyelesaian yang baik terhadap anggota jaringan.
Anggota jaringan mendapatkan perasaan kesatuan dan pikiran yang menyenangkan seperti halnya tim pemain sepak bola,mereka dapat melepasakan ketegangan dengan berlari, meloncat dan berteriak. Bagi yang mengalami krisismendapat pusat perhatian dan untuk penyelesaiannya dilakukan secara terpisah. Sebelum diskusi jaringan dengan keluarga, informasi yang pokok dikumpulkan untuk melengkapi konstruksi dari strategi jaringan pada pertemuan pertama. Sebelum sidang, prosedur yang biasanya dilakukan adalah konselor memasang tape recorder, mengumpulkan pendapat anggota keluarga, mendengarkan desas-desus dan biasanya didapat informasi tentang kelompok. Dalam hal ini biasanya konselor bertindak sebagai pembantu dengan dua atau empat orang berprofesi sebagai penasehat tersebut dalam latihan sebagai konselor jaringan, tetapi juga berprofesi sebagai pelopor. Kepercayaan tercipta selam hubungan akrab satu persatu dengan konselor selam sidang, mungkin setelah itu tidak ada hubungan lagi. Karena iotu dipesankan oleh konselor untuk membentuk jaringa komuniksi secara tetap. Dalam jaringan ini timbul perasaan baru dari para anggota dan sadar akan rasa kebersamaan.

Ø   Konseling keluarga ganda oleh Laqueur (multiple family counseling)

H. Peter Laquer adalah seorang psikiater, ia menciptakan multiple family counseling. Ia mengatakan bahwa konseling yang demikian telah berkembang menjadi kebutuhan karena ia melihat sejumlah ketidak efisienan konselor dalm mengobati krisis keluarga di rumah sakit-rumah sakit pemerintah tempat ia bekerja. Laquer dan kelompoknya mulai melakukan terapi ini pada klien-klien di rumah sakit dan keluarganya. Dari apa yang dilakukan dan dikembangkan oleh Laquer dan teman-temanya, maka ada kepercayaan bahwa konselor keluarga ganda dapat memberikan perubahan dala pola-pola interaksi secara lebih cepat dan lebih efektif dari pada yang biasa dilakukan dengan penanganan tunggal pada keluarga. Terutama ketika ada anggota yang mengidap penyakit schizophrenia, konseling keluarga ganda dapat memberikan hasil yang lebih baik dari pada konseling tunggal kepada keluarga. Laquer percaya, karena hadirnya keluarga lain dan klien lain akan mendorong orang yang terserang schizophrenia untukdengan lebih aktif berusaha mengenali perbedaan diri dan kebebasannya dari pada terus menerus bertahan dalam hubungan simbiotik kepada keluarganya yang teritama menimbulkan sakitnya itu.
Laquer juga berbicara tentang jenis komunikasi yang sesuai untuk setiap jenis keluarga dan bahasa untuk orang yang terkena schizophrenia. Di menemukan keluarga lain yang dapat dugunakan sebagai perantara antara konselor dan keluarga itu, dan antara konselor dan orang yang terkena schizophrenia serta sering juga untuk menjernihkan hubungan antara klien itu dengan keluarganya. Setelah memperkenalkan konseling keluarga ganda di New York Hospital, Laquer pindah ke Vermont. Di sana dia terus mempraktekkan konseling tersebut. Ketika ia melakukan serentak untuk empat atau lima keluarga, dari prakteknya sendiri atau dari rumah sakit dan klinik kesehatan mentalnya, dia menjelaskan bahwa problem mereka akan digabungkan. Tetapi tiap-tiap keluarga harus merasa bebas apakah akan ikut bersama-sama mengadakan pembicaraan lagi ataukah tidak setelah pertemuan pertama. Setiap keluarga akan ditangani hanya jika tiap anggota keluarga memerlukan bantuan.
Keluarga-keluarga itu bercampur dalam pendidikan dan latar belakang sosial ekonominya. Laquer percaya bahwa dalam campuran yang acak itu, orang dari latar belakang serupa akan cendrung untuk berinteraksi secara dangkal. Lain dengan misalnya seorang anak sopir dengan seorang anak profesor. Menurut laquer dapat membuat orang tua mereka masing-masing terlibat pembicaraan yang lebih efisien, dibanding dengan dari orang tua yang berlatar belakang sejenis.
Keluarga yang tidak meninggalkan pertemuan pertama, biasanya suka untuk mengikuti penangan selanjutnya. Waktu yang diperlukan untuk jenis konseling ini adalah sekitar 12 sampai 18 bulan. Laquer melaporkan bahwa kebanyakan keluarga itu semula tidak mengetahui mengapa mereka harus berada dalam kelompok itu dan bagaimana dapat dibantu untuk membicarakan problem mereka dihadapan keluarga lain dengan problemnya sendiri-sendiri pula. Kemuadian baru mendapatkan pengertian dari pihak keluarga lain dan mendapat dukungan emosional dalam kelompok itu, sehingga mengurangi rasa sakit daro problem yang dirasakan. Akhirnya baru dapat menghadapai dengan tenang bahwa mereka memang telahmenyebabkan adanya problem itu.
Laquer telah menyebutkan satu persatu meklanisme perubahan yang dia yakini dala konseling keluarga ganda ini, yaitu:
  1. Konseling keluarga ganda menggunakan keluarga yang agar tidak terganggu secara co-counselor (konselor pembantu). Karena semua keluarga dala kelompok itu umumnya memiliki sebuah problem, maka konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada mereka dalam kerangka kerja tersebutuntuk mengadakan komunikasi dan memperoleh pengertian yang lebih baik. Dengan keadaan demikian satu keluarga dengan senang hati dapat menerima keluarga yang lain dan keluarga yang lain itu dapat berperan sebagai co-counselor dalam konseling.
  2. Laquer percaya bahwa kompetisi di antara keluarga di dalam sistem konseling keluarga ganda ini, akan menghasilkan perubahan yang lebih cepat dala tahap awal penanganan. Sedang kooperasi (kerjasama) akan menimbulkan kompetisi pada tahap akhirnya.
  3. Konseling keluarga ganda akan membantu menyebarluaskan bahwa individu anggota keluarga harus mengerti tingkah lakunya, reaksi-reaksinya, dan tabiat-tabiatnya secara umum terhadapa orang lain dalam lingkungannya. Konselor menggunakan konsep ini dalam mengembangkan interaksi untuk membuat perasaan, problem-problem, dan kebutuhan orang-orang yang diobati itu yang sebelumnya ditutp-tutupi, sehingga dengan demikian dapat ditemuaka cara baru untuk menangani mereka.
  4. Anggota kelompok diberi kesempatan untuk mengamati keadaan konflik yang sejenis. Untuk melihat bahwa keluarga yang lain mempunyai problem yang dapat dibandingkan dengan problemnya.
  5. Konseling keluarga ganda seperti yang dikatakan Laquer, memeberikan kesempatan dengan apa yang dia sebut belajar melalui identifikasi. Dia tunjukkan bahwa orang dapat mengerti peranannya dan mengembangkan secara efektif dengan mengamati orang lain dalam hubungan-hubungannya. Perkawinan dapat menjadi baik setelah orang itu mengamati perkawinan orang lain. Hubungan anak dan orang tua dapat menjadi baik setelah melihat hubungan anak dan orang tua lain.
  6. Pengalaman konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mencoba gaya tingkah laku baru. Dapat melihat bagaimana oramng lain memnerikan kepada mereka jika mereka beretingkah laku lain. Dalam konseling keluarga ganda ini dimana hubungan keluarga-keluarga disatukan, klien dan anggota keluarga lain merasa dan aman untuk membangun tingkah laku yang adaptif dibandingkan dengan keadaan dalam konseling keluarga tunggal (hanya keluarganya sendiri).
  7. Karena adanya sifat terbuka pada akhirnya akan membuat keluarga yang bersangkutan berbeda-beda tahap penanganannya. Ia menyatakan bahwa orang dengan besar sintomnyadalam keanggotaan kelompok konseling keluarga ganda ini, mengembangkan perubahan dan sikap berikutnya dalam perubahan itu terjadi pada anggota kelompok yang lain setelah melihat adanya tabiat yang dewasa dari model yang pertama tadi.
    h. Konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada konselor untuk menggunakan tipe tingkah laku yang lebih baru, lebih realistis seperti yang ditunjukkan oleh seorang individu atau keluargasebagai dasar untukmengarahkan perhatian seluruh kelompok serta untuk mengajak seluruh keluarga dan individu lain memiliki situasi yang efektif dan realistis seperti tersebut di atas.
Laquer menjelaskan bahwa kelompok konseling keluartga ganda mudah berubah pendirian dan mudah goncang dan gagal jika konselor tidak membawanya ke dalam situasi yang baru. Konselor harus memiliki kecakapan untuk membetulkan dengan cepat jika terjadi kesalahan fungsi, harus ada inisiatif untuk memilih pendekatan-pendekatan dalam situasi yang kritis. Laquer menganjurkan perlunya evaluasi yang lebih seksama dan penelitia selanjutnya. Dia juga menunjukkan kesimpulan sementara mengenai konseling keluaraga ganda ini berdasarkan 600 keluarga yang mengalami konseling ini.

Untuk mengunduh Klik Disini

Selasa, 06 Mei 2014

Peta Kognitif Pendekatan Behavioristik,Psikoanalisis,Humanistik

No.
Aspek
Keterangan
1.
Tokoh
John Broadus Watson  pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner.
2.
Hakikat  Manusia   
·         Corey (2003: 198) menyatakan bahwa pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.
·         Winkel (2004: 420) menyatakan bahwa konseling behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian bersifat psikologis, yaitu:
a)      Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek.
b)      Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkahlakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
c)      Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola tingkahlaku yang baru melalui proses belajar.
d)     Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain
·           Disimpulkan bahwa hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar. Manusia pun dapat mempengaruhi orang lain, begitu pula sebaliknya. Manusia dapat menggunakan orang lain sebagai model pembelajarannya.
untuk lebih lanjut klik disini